Who Move My Cheese

Bagi Anda yang belum baca, buku ini bercerita tentang dua kurcaci.
Mereka hidup dalam sebuah labirin yang sarat dengan keju. Kurcaci yang satu selalu berpikiran suatu hari kelak keju di tempat mereka tinggal akan habis. Karena itu, dia selalu menjaga stamina dan kesadarannya agar jika keju di situ habis, dia dalam kondisi siap mencari keju di tempat lain. Sebaliknya, kurcaci yang kedua, begitu yakin sampai kiamat pun persediaan keju tidak akan pernah habis. Singkat cerita, suatu hari keju habis.


Kurcaci pertama mengajak sahabatnya untuk meninggalkan tempat itu guna mencari keju di tempatlain. Sang sahabat menolak. Dia yakin keju itu hanya dipindahkan oleh seseorang dan nanti suatu hari pasti akan dikembalikan. Karena itu tidak perlu mencari keju di tempat lain. Dia sudah merasa nyaman. Maka dia memutuskan menunggu terus di tempat itu sampai suatu hari keju yang hilang akan kembali. Apa yang terjadi, kurcaci itu menunggu dan menunggu sampai kemudian mati kelaparan. Sedangkan kurcaci yang selalu siap tadi sudah menemukan labirin lain yang penuh keju. Bahkan jauh lebih banyak dibandingkan di tempat lama.
Pesan moral buku sederhana itu jelas: jangan sekali-kali kita merasa nyaman di suatu tempat sehingga lupa mengembangkan diri guna menghadapi perubahan dan tantangan yang lebih besar. Mereka yang tidak mau berubah,dan merasa sudah nyaman di suatu posisi, biasanya akan mati digilas waktu.

Source : http://firananta.blogspot.com/2008/08/who-move-my-cheese.html

#7 - SEE YOUR REACHING

Catalina Island is twenty-one miles away from the coast of California, and many people have taken the challenge to swim across it. On July 4th 1952, Florence Chadwick stepped into the water off Catalina Island to swim across to the California coast. She started well and on course, but later fatigue set in, and the weather became cold. She persisted, but fifteen hours later, numb and cold, she asked to be taken out of the water.

After she recovered, she was told that she had been pulled out only half a mile away from the coast. She commented that she could have made it, if the fog had not affected her vision and she would have just seen the land. She promised that this would be the only time that she would ever quit.
She went back to her rigorous training. And two months later she swam that same channel. The same thing happened. The fatigue set in, and the fog obscured her view, but this time she swam with faith and vision of the land in her mind. She knew that somewhere behind the fog was land. She succeeded and became the first woman to swim the Catalina Channel. She even broke the men's record by two hours.


SUCCESS PRINCIPLES

When you set your goal, keep pressing on even when you are tired, physically and mentally, and even though there are many challenges ahead. Keep the vision of your goal crystal clear before you and never, never, never... give up! See the reaching, commit to it, and you will surely see your goal realized.

7 Keajaiban dunia

Sekelompok siswa kelas geografi sedang mempelajari ‘Tujuh Keajaiban Dunia’. Pada awal dari pelajaran, mereka diminta untuk membuat daftar apa yang mereka pikir merupakan ‘Tujuh Keajaiban Dunia’ saat ini. Walaupun ada beberapa ketidak sesuaian, sebagian besar daftar berisi sbb :

1] Piramida

2] Taj Mahal

3] Tembok Besar Cina

4] Menara Pisa

5] Kuil Angkor

6] Menara Eiffel

7] Kuil Parthenon



Ketika mengumpulkan daftar pilihan, sang guru memperhatikan seorang pelajar, se orang gadis yang pendiam, yang belum mengumpulkan kertas kerjanya. Jadi, sang guru bertanya kepadanya apakah dia mempunyai kesulitan dengan daftarnya.

Gadis pendiam itu menjawab, ‘Ya, sedikit. Saya tidak bisa memilih karena sangat banyaknya ‘keajaiban itu’. Sang guru berkata,’Baik, katakan pada kami apa yang kamu miliki, dan mungkin kami bisa membantu memilihnya’.
Gadis itu ragu sejenak, kemudian membaca, ‘Saya pikir, ‘Tujuh Keajaiban Dunia’ itu adalah :

1] Bisa melihat,

2] Bisa mendengar,

3] Bisa menyentuh,

4] Bisa menyayangi,

5] Bisa merasakan,

6] Bisa tertawa, dan

7] Bisa mencintai

Ruang kelas tersebut sunyi seketika. Alangkah mudahnya bagi kita untuk melihat pada eksploitasi manusia dan menyebutnya ‘keajaiban’. Sementara kita lihat lagi semua yang telah Tuhan karuniakan untuk kita, kita menyebutnya sebagai ‘biasa’.

Filosofi Pensil

FILOSOFI PENSIL....

Kali ini saya ingin menceritakan kepada Anda sebuah kisah penuh hikmah dari sebatang pensil. Dikisahkan, sebuah pensil akan segera dibungkus dan dijual ke pasar. Oleh pembuatnya, pensil itu dinasihati mengenai tugas yang akan diembannya. Maka, beberapa wejangan pun diberikan kepada si pensil. Inilah yang dikatakan oleh si pembuat pensil tersebut kepada pensilnya.

"Wahai pensil, tugasmu yang pertama dan utama adalah membantu orang sehingga memudahkan mereka menulis. Kamu boleh melakukan fungsi apa pun, tapi tugas utamamu adalah sebagai alat penulis. Kalau kamu gagal berfungsi sebagai alat tulis. Macet, rusak, maka tugas utamamu gagal."

"Kedua, agar dirimu bisa berfungsi dengan sempurna, kamu akan mengalami proses penajaman. Memang meyakitkan, tapi itulah yang akan membuat dirimu menjadi berguna dan berfungsi optimal".

"Ketiga, yang penting bukanlah yang ada di luar dirimu. Yang penting, yang utama dan yang paling berguna adalah yang ada di dalam dirimu. Itulah yang membuat dirimu berharga dan berguna bagi manusia".

"Keempat, kamu tidak bisa berfungsi sendirian. Agar bisa berguna dan bermanfaat, maka kamu harus membiarkan dirimu bekerja sama dengan manusia yang menggunakanmu".

"Kelima. Di saat-saat terakhir, apa yang telah engkau hasilkan itulah yang menunjukkan seberapa hebatnya dirimu yang sesungguhnya.
Bukanlah pensil utuh yang dianggap berhasil, melainkan pensil-pensil yang telah membantu menghasilkan karya terbaik, yang berfungsi hingga potongan terpendek. Itulah yang sebenarnya paling mencapai tujuanmu dibuat".

Sejak itulah, pensil-pensil itu pun masuk ke dalam kotaknya, dibungkus, dikemas, dan dijual ke pasar bagi para manusia yang membutuhkannya.

Pembaca, pensil-pensil ini pun mengingatkan kita mengenai tujuan dan misi kita berada di dunia ini. Saya pun percaya bahwa bukanlah tanpa sebab kita berada dan diciptakan ataupun dilahirkan di dunia ini. Yang jelas, ada sebuah purpose dalam diri kita yang perlu untuk
digenapi dan diselesaikan.

Sama seperti pensil itu, begitu pulalah diri kita yang berada di dunia ini. Apa pun profesinya, saya yakin kesadaran kita mengenai tujuan dan panggilan hidup kita, akan membuat hidup kita menjadi semakin bermakna.

Hilang arah

Tidak mengherankan jika Victor Frankl yang memopulerkan Logoterapi, yang dia sendiri pernah disiksa oleh Nazi, mengemukakan "tujuan hidup yang jelas, membuat orang punya harapan serta tidak mengakhiri hidupnya". Itulah sebabnya, tak mengherankan jika dikatakan bahwa salah satu penyebab terbesar dari angka bunuh diri adalah kehilangan arah ataupun tujuan hidup. Maka, dari filosofi pensil di atas kita belajar mengenai lima hal penting dalam kehidupan.

Pertama, hidup harus punya tujuan yang pasti. Apapun kerja, profesi atau pun peran yang kita mainkan di dunia ini, kita harus berdaya guna. Jika tidak, maka sia-sialah tujuan diri kita diciptakan. Celakanya, kita lahir tanpa sebuah instruksi ataupun buku manual yang menjelaskan untuk apakah kita hadir di dunia ini. Pencarian akan tujuan dan panggilan kita, menjadi tema penting selama kita hidup di dunia.

Yang jelas, kehidupan kita dimaknakan untuk menjadi berguna dan bermanfaat serta positif bagi orang-orang di sekitar kita, minimal untuk orang-orang terdekat. Jika tidak demikian, maka kita useless. Tidak ada gunanya. Sama seperti sebatang pensil yang tidak bisa dipakai menulis, maka ia tidaklah berguna sama sekali.

Kedua, akan terjadi proses penajaman sehingga kita bisa berguna optimal, oleh karena itulah, sering terjadi kesulitan, hambatan ataupun tantangan. Semuanya berguna dan bermanfaat sehingga kita selalu belajar darinya untuk menjadi lebih baik. Ingat kembali soal Lee Iacocca, salah satu eksekutif yang justru menjadi besar dan terkenal, setelah dia didepak keluar dari mobil Ford. Pengalaman itu justru menjadi pemacu semangat baginya untuk berhasil di Chrysler.

Ingat pula, Donald Trump yang sempat diguncang masalah finansial dan nyaris bangkrut. Namun, kebangkrutannya itulah yang justru menjadi pelajaran dan motivasi baginya untuk sukses lebih langgeng. Kadang penajaman itu 'sakit'. Namun, itulah yang justru akan memberikan kesempatan kita mengeluarkan yang terbaik.

Ketiga, bagian internal diri kitalah yang akan berperan. Saya sering menyaksikan banyak artis, ataupun bintang film yang terkenal, justru yang hebat bukanlah karena mereka paling cantik ataupun paling tampan. Tetapi, kemampuan dalam diri mereka, filosofi serta semangat
merekalah yang membuat mereka menjadi luar biasa. Demikian pula pada diri kita. Pada akhirnya, apa yang ada di dalam diri kita seperti karakter, kemampuan, bakat, motivasi, semangat, pola pikir itulah yang akan lebih berdampak daripada tampilan luar diri kita.

Keempat, pensil pun mengajarkan agar bisa berfungsi sempurna kita harus belajar bekerja sama dengan orang lain. Bayangkanlah seorang aktor atau aktris yang tidak mau diatur sutradaranya. Bayangkan seorang anak buah yang tidak mau diatur atasannya. Ataupun seorang service provider yang tidak mau diatur oleh pelanggannya. Mereka semua tidak akan berfungsi sempurna. Agar berhasil, kadang kita harus belajar dari pensil untuk 'tunduk' dan membiarkan diri kita berubah menjadi alat yang sempurna dengan belajar dan mendengar dari ahlinya. Itulah sebabnya, kemampuan untuk belajar bekerja sama dengan orang lain, mendengarkan orang lain, belajar dari 'guru' yang lebih tahu adalah sesuatu yang membuat kita menjadi lebih baik.

Terakhir, pensil pun mengajarkan kita meninggalkan warisan yang berharga melalui karya-karya yang kita tinggalkan. Tugas kita bukan kembali dalam kondisi utuh dan sempurna, melainkan menjadikan diri kita berarti dan berharga.

Yang penting, hingga pada akhir kehidupan kita ada karya ataupun hasil berharga yang mampu kita tinggalkan. Tentu saja tidak perlu yang heboh dan spektakuler.

Sumber: Anthony Dio Martin

------------------------------

"Setiap orang membuat kesalahan. Itulah sebabnya, pada setiap pensil ada penghapusnya" (Pepatah Jepang)

Siapa yang menyiapkan parasut Anda ?

Charles Plumb, seorang lulusan Akademi Angkatan Laut AS, pernah menjadi penerbang jet di Vietnam. Setelah 75 misi pertempuran, pesawatnya tertembak rudal darat ke udara. Plumb sempat lompat keluar, turun dengan payung udara dan jatuh ke tangan musuh. Ia tertangkap dan menghabiskan 6 tahun disebuah penjara Vietnam . Ia berhasil melewati masa cobaan penuh siksaan itu dan kini memberi kuliah tentang pelajaran-pelajaran berdasarkan pengalaman- pengalamannya tersebut.

Suatu hari, ketika Plumb dan sang istri sedang duduk di sebuah restoran, seorang pria yang duduk di meja lain menghampirinya dan berkata, "Heee, bukankah Anda Plumb! Anda yang menerbangkan penempur- penempur jet di Vietnam dari kapal induk Kitty Hawk . Bukankah pesawat Anda hancur!"
"Bagaimana Anda mengetahuinya? " tanya Plum.
"Bukankah saya yang melipat dan menyiapkan parasut Anda saat kejadian tersebut!" jawab pria tersebut dengan senang. Nafas Plum tersentak kaget dan penuh syukur. Pria tersebut membuat isyarat dengan tangannya dan berkata, "Apakah semuanya baik-baik saja?" Plumb meyakinkannya sambil berkata, "Oh ya, pasti. Beres dan hebat. Seandainya parasut Anda tidak
dapat terbuka, pastilah hari ini saya tidak ada di sini."

Malam itu Plumb tidak dapat tidur, terus memikirkan orang yang dijumpainya di restoran, "Sangat mengagumkan. Bagaimana rupa pria tersebut saat mengenakan seragam, dengan sebuah topi putih, secarik kain selempang di punggungnya, dan celana- celananya yang melebar di bawah. Berapa sering aku melihatnya dulu ketika berada di pesawat dan tidak pernah sekalipun menyapanya 'Selamat pagi, apa kabar?' atau lainnya hanya karena aku seorang pilot penempur dan ia hanya seorang marinir."

Plumb memikirkan dan membayangkan begitu banyaknya jam-jam yang dihabiskan marinir tersebut pada sebuah meja kayu di dalam lambung pesawat, begitu teliti dan cermat merajut kain dan melipati sutra setiap parasut, setiap saat memegang nasib dan hidup seseorang yang bahkan tidak ia kenal.

"Jadi sekarang," Plumb bertanya pada pendengarnya, "siapakah yang menyiapkan parasut Anda?" Setiap orang memiliki seseorang yang memberikan dan menyediakan kebutuhannya untuk melewati setiap hari. Ia juga menjabarkan bermacam parasut yang ia butuhkan pada saat pesawatnya tertembak jatuh di atas teritori musuh --ia membutuhkan parasut jasmani, parasut mental, parasut untuk emosinya, dan juga parasut spirituilnya- Ia membutuhkan semua itu sebagai dukungan, sebelum melayang turun dengan selamat.

Terkadang dalam menghadapi tantangan-tantangan yang diberikan hidup ini kita lalai, luput dan mengabaikan apa yang sesungguhnya penting. Kita mungkin lalai menyapa seseorang; hallo, maaf ya, tolong, terima kasih, mengucapkan selamat pada seseorang untuk suatu peristiwa indah, memberikan pujian dan semangat, atau sekedar berbuat baik tanpa alasan
apapun.

Selagi Anda menjalani minggu ini, bulan ini, tahun ini, kenalilah orang-orang yang membantu menyiapkan parasut Anda! Ungkapan terima kasih Anda pada mereka yang memiliki peranan dalam menyediakan dan mempersiapkan parasut Anda.

Dan saya harap Anda pun mengirimkan tulisan ini pada orang-orang yang telah membantu menyiapkan parasut Anda! Setiap kebaikan yang bisa Anda akukan, setiap keramahan yang bisa Anda tunjukkan, biarlah Anda lakukan sekarang juga, sebab belum tentu kesempatan itu akan melewati Anda lagi!

Cukup itu berapa ?

Alkisah, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib.
Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya. Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya seberapapun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti bila si petani mengucapkan kata "cukup".

Seketika si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya. Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu. Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubug mungilnya untuk disimpan disana.
Kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya. Masih kurang! Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya. Belum cukup, dia membiarkan mata air itu terus mengalir hingga akhirnya petani itu mati tertimbun bersama ketamakannya karena dia tak pernah bisa berkata cukup.


---
Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia barangkali adalah kata "cukup". Kapankah kita bisa berkata cukup?
Hampir semua pegawai merasa gajinya belum bisa dikatakan sepadan dengan kerja kerasnya.
Pengusaha hampir selalu merasa pendapatan perusahaannya masih dibawah target.
Istri mengeluh suaminya kurang perhatian.
Suami berpendapat istrinya kurang pengertian.
Anak-anak menganggap orang tuanya kurang murah hati.
Semua merasa kurang dan kurang.
Kapankah kita bisa berkata cukup?

Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya.
Cukup adalah persoalan kepuasan hati.
Cukup hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa mensyukuri.
Tak perlu takut berkata cukup.
Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya.
"Cukup" jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandeg dan berpuas diri. Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan.
Jangan biarkan kerakusan manusia membuat kita sulit berkata cukup.
Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia.

Belajarlah untuk berkata "Cukup"

Source : Sy and Unknow

Ada Tetesan Setelah Tetesan Terakhir

Pasar malam dibuka di sebuah kota . Penduduk menyambutnya
dengan gembira. Berbagai macam permainan, stand makanan dan
pertunjukan diadakan. Salah satu yang paling istimewa adalah
atraksi manusia kuat.

Begitu banyak orang setiap malam menyaksikan unjuk kekuatan
otot manusia kuat ini.

Manusia kuat ini mampu melengkungkan baja tebal hanya
dengan tangan telanjang. Tinjunya dapat menghancurkan batu
bata tebal hingga berkeping-keping.

Ia mengalahkan semua pria di kota itu dalam lomba panco.
Namun setiap kali menutup pertunjukkannya ia hanya memeras
sebuah jeruk dengan genggamannya. Ia memeras jeruk tersebut
hingga ke tetes terakhir.

'Hingga tetes terakhir', pikirnya.

Manusia kuat lalu menantang para penonton: "Hadiah
yang besar kami sediakan kepada barang siapa yang bisa
memeras hingga keluar satu tetes saja air jeruk dari buah
jeruk ini!"

Kemudian naiklah seorang lelaki, seorang yang atletis, ke
atas panggung. Tangannya kekar. Ia memeras dan memeras...
dan menekan sisa jeruk... tapi tak setetespun air jeruk
keluar. Sepertinya seluruh isi jeruk itu sudah terperas
habis. Ia gagal. Beberapa pria kuat lainnya turut mencoba,
tapi tak ada yang berhasil. Manusia kuat itu
tersenyum-senyum sambil berkata : "Aku berikan satu
kesempatan terakhir, siapa yang mau mencoba?"

Seorang wanita kurus setengah baya mengacungkan tangan dan
meminta agar ia boleh mencoba. "Tentu saja boleh
nyonya. Mari naik ke panggung." Walau dibayangi
kegelian di hatinya, manusia kuat itu membimbing wanita itu
naik ke atas pentas. Beberapa orang tergelak-gelak
mengolok-olok wanita itu. Pria kuat lainnya saja gagal
meneteskan setetes air dari potongan jeruk itu apalagi ibu
kurus tua ini. Itulah yang ada di pikiran penonton.

Wanita itu lalu mengambil jeruk dan menggenggamnya. Semakin
banyak penonton yang menertawakannya. Lalu wanita itu
mencoba memegang sisa jeruk itu dengan penuh konsentrasi.
Ia memegang sebelah pinggirnya, mengarahkan ampas jeruk ke
arah tengah, demikian terus ia ulangi dengan sisi jeruk
yang lain. Ia terus menekan serta memijit jeruk itu, hingga
akhirnya memeras... dan "ting!" setetes air jeruk
muncul terperas dan jatuh di atas meja panggung.

Penonton terdiam terperangah. Lalu cemoohan segera berubah
menjadi tepuk tangan riuh.

Manusia kuat lalu memeluk wanita kurus itu, katanya,
"Nyonya, aku sudah melakukan pertunjukkan semacam ini
ratusan kali. Dan, banyak orang pernah mencobanya agar bisa
membawa pulang hadiah uang yang aku tawarkan, tapi mereka
semua gagal. Hanya Anda satu-satunya yang berhasil
memenangkan hadiah itu.

Boleh aku tahu, bagaimana Anda bisa melakukan hal
itu?"

"Begini," jawab wanita itu, "Aku adalah
seorang janda yang ditinggal mati suamiku. Aku harus
bekerja keras untuk mencari nafkah bagi hidup kelima
anakku.

Jika engkau memiliki tanggungan beban seperti itu, engkau
akan mengetahui bahwa selalu ada tetesan air walau itu di
padang gurun sekalipun. Engkau juga akan mengetahui jalan
untuk menemukan tetesan itu. Jika hanya memeras setetes air
jeruk dari ampas yang engkau buat, bukanlah hal yang sulit
bagiku".

Selalu ada tetesan setelah tetesan terakhir. Aku telah
ratusan kali mengalami jalan buntu untuk semua masalah
serta kebutuhan yang keluargaku perlukan.

Namun hingga saat ini aku selalu menerima tetes berkat
untuk hidup keluargaku. Aku percaya Tuhanku hidup dan aku
percaya tetesan berkat-Nya tidak pernah kering, walau mata
jasmaniku melihat semuanya telah kering. Aku punya alasan
untuk menerima jalan keluar dari masalahku. Saat aku
mencari, aku menerimanya karena ada pribadi yang
mengasihiku.

"Bila Anda memiliki alasan yang cukup kuat, Anda akan
menemukan jalannya", demikian kata seorang bijak.

Seringkali kita tak kuat melakukan sesuatu karena tak
memiliki alasan yang cukup kuat untuk menerima hal
tersebut. (Bits & Pieces, The Economics Press)